Jan 12

Anak Biologis dan Anak Ideologis

By: Ummi Nusaibah

Awal kudengar dua kata diatas adalah ketika seorang ustadz menceritakan tafsir kisah Nabi Zakaria dalam surat Maryam.  Maka lahirlah Yahya, sebagai anak biologis atas janji Allah padanya.

Awal aku datang ke Malaysia, usiaku akhir 20an.  Aku mengajarkan Islam pada para TKW, semampuku.  Mereka memanggilku Ummi, walaupun kadang Umur mereka tak jauh dariku.  Aku masih lucu mendengarnya, ‘Ummi’.

Lama kelamaan, aku makin sering dipanggil Ummi.  Aku tahu, mereka rindu pada keluarga mereka di tanah air.  Jadi, aku biarkan mereka memanggilku seperti itu, Ummi.

Pada akhirnya aku jadi terbiasa dipanggil Ummi dan menyebut diriku Ummi pada mereka.  Membiarkan rindu mereka pada keluarganya, tercurah pada pengajian kami.  Merekalah anak ideologisku.

Walaupun pada akhirnya jasad akan kembali ke tanah, semoga ide-ide kebaikan itu tetap bertebaran di atas bumi.  Selamat kembali ke tanah air anak-anak ideologisku, jadilah kalian pelopor kebaikan di kampung halaman.  Amin.
 
Cheras, 11 Januari 2018
Hamba Allah yang masih belajar

Jan 12

Setangkai Bunga Indah

By: Ust. Asfuri Bahri

Ustadz Umar Tilmisani bercerita, “Dalam urusan ikhwah, biasanya Imam Syahid sangat rinci dan detail menyikapinya sesuai dengan batas-batas syariah. Dan pada suatu hari seorang akh penyair yang bernama Umar Al-Amiri, salah satu pimpinan di Suriah meminta izin untuk pergi ke Iskandaria bersama ayahnya dengan kereta yang berangkat esok pagi jam tujuh dari Kairo.

Esok paginya berangkatlah Umar Al-Amiri bersama ayahnya. Satu atau dua menit sebelum kereta bergerak berangkat Umar melihat Imam Syahid berjalan terburu-buru di trotoar dekat rel kereta, beliau membawa setangkai bunga yang indah dan beliau hadiahkan kepada ayah Umar Al-Amiri. Dan peristiwa ini sangat berkesan di dalam diri penyair kodang Umar Al-Amiri.

Allah Karim….
Akhlak macam apa ini…?
Perhatian macam apa ini…?
Qiyadah macam apa beliau…?
Keteladanan macam apa ini…?
Tidak adakah yang mau diutus untuk mengantar setangkai bunga itu ke stasiaun…?
Tidak adakah yang mau mengantar beliau dengan mobil ke stasiun…?
Pasti ada. Pasti tidak ada yang menolak.
Karena mungkin beliau ingin menyampaikan sendiri hadiah itu dengan tangannya sendiri dan diantar dengan berjalan di trotoar.
Akhlak sejati Rijalud-dak’wah, yang sangat tegas dan tanpa kompromi terhadap penjajah dan segala jenis kezaliman, namun lembut bersahaja terhadap ikhwah.
Apakah tidak ada urusan yang lebih besar terkait dakwah dan problematika ummat – sebagaimana pada rosail beliau – hingga beliau memikirkan hal kecil ini?
Bukan, itu bukan urusan kecil, secara materi memang setangkai bunga hanyalah kecil dan sepele. Namun ini urusan hati, menyatukan hati, cinta karena Allah. Itu lebih besar dari dunia dan seisinya.

Barangkali hanya dengan setangkai bunga masalah besar bisa diselesaikan…
Barangkali hanya senyum lembut hati yang keras menjadi lembut…
Barangkali hanya dengan sapaan lembut kebencian berubah menjadi cinta…
Barangkali hanya dengan kalimat yang baik anda bisa menakhlukkan dunia…
تهادوا تحابوا
“Saling memberilah kalian, niscaya kalian saling mencintai.” (Al-Baihaqi dan dinilai hasan oleh Albani)

Semoga bermanfaat…
——————————–

Jan 06

Kisah Wanita dalam Al-Quran : Sarah, Istri Nabi Ibrahim AS.

Oleh: Ust. Budi Ashari, Lc.
 

Sekilas tentang Sarah, istri Nabi Ibrahim

Awalnya Ibrahim tinggal di negeri Babilonia.  Dari lamanya dia berdakwah di Babilonia, hanya 2 orang yang beriman.  Yaitu saudara sepupunya Sarah dan keponakannya Luth, yang selanjutnya menjadi nabi.  Lalu Ibrahim pindah ke negeri Syam dan menikah dengan Sarah.  Saat itu Ibrahim belum menikah dengan Hajar.  Hajar adalah istri yang di hadiahkan Sarah kepada Ibrahim.Ibrahim lebih banyak di Syam (Palestina).  Namun Ibrahim pernah berkunjung hanya 3 kali untuk menemui Ismail anaknya di Mekkah.  Satu kali saat menyampaikan mimpinya untuk menyembelih Ismail, 2 kali saat ia berkunjung dan bertemu dengan istri Ismail (yang pertama pada akhirnya disuruh ceraikan, yang kedua disuruh pertahankan).Ibrahim adalah pamannya Nabi Luth AS.  Luth tinggal di Yordania.

Ibrahim sangat mencintai Sarah.  Kecintaan Ibrahim kepada Sarah karena :
1. Karena agamanya
2. Karena masih kerabatnya (sepupunya)
3. Karena Sarah adalah wanita yang sangat cantik.   Setelah Hawa, tidak ada wanita yang cantiknya melebihi Sarah.
Maka, tampannya nabi Yusuf itu adalah dari nasabnya Sarah.
Sarah+Ibrahim –> Ishaq –> Yakub –> Yusuf.

“Jangan berputus asa dari Rahmat Allah.  Allah pasti mengabulkan, asal kita berbaik sangka kepada Allah.  Jangan menjadi orang peminta-minta kepada manusia, tetap Zuhud.  Saat kamu sudah dicintai Allah dan manusia, tanpa engkau minta, kau akan diberi”.

Ibrahim tidak pernah berburuk sangka kepada orang lain, dan ia pun terus berbaik sangka kepada Allah, dan pada akhirnya diberi 2 anak yaitu Ismail dan Ishaq di usia senjanya.

Sekilas tentang cemburu

Kecemburuan ada yang dicintai Allah, dan ada juga yang dibenci Allah.
Kecemburuan yang disukai Allah adalah kecemburuan kepada seseorang saat ia berada di tempat yang salah/posisi dosa (ribath).
Kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan tidak pada posisi dosa. Misalnya cemburu berlebihan seorang istri kepada istri yang lain.

Kecemburuan kalau tidak ada di posisi yang tepat, maka akan merusak.

HR. Abu Daud :  dari Aisyah RA : “Wanita itu kalau cemburu ia tidak bisa melihat mana atasnya lembah, mana bawahnya lembah”.

Cemburunya Sarah kepada Hajar

Kecemburuan puncak Sarah kepada Hajar adalah saat Hajar memiliki anak. Bahkan saking cemburunya Sarah ingin memotong sebagian tubuhnya Hajar, bahkan sampai bersumpah atas nama Allah.  Namun akhirnya kecemburuannya mereda.  Namun karena sudah bersumpah atas nama Allah, untuk memenuhinya Ibrahim menyuruh Sarah melubangi saja telinga Hajar.  Dan dari telinga yang berlubang itu Hajar adalah wanita pertama yang memakai anting.  Dengan berhias demikian Hajar semakin cantik, dan semakin cemburu lah Sarah.

Untuk mengatasi kecemburuan Sarah kepada Hajar, Nabi Ibrahim memisahkan Hajar hingga 1000 km lebih.  Yang satu di negeri Syam, yang satu di Mekkah.
——
Pada Kajian ini dibahas dua surat.  Yaitu surat Hud 69-73, dan surat Ad Dzariyat : Q.S. Hud : 24-30.  Seluruhnya berkisah tentang kisah Sarah dan Ibrahim.

Q.S. Hud : 69

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَىٰ قَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”.  Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.

Q.S. Ad Dzariyat : 24

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?

Penjelasan

Pada Hud ayah 69, menceritakan datangnya malaikat membawa kabar gembira tentang hadirnya anak saat Ibrahim sedang di Palestina.

Malaikat yang datang kepada Ibrahim : Jibril, Mikail dan Isrofil. Malaikat mengucapkan salam : “salaaman”. Dan Ibrahim menjawab : “salaamun”.

Dari ayat ini menunjukkan bahwa dari mulai Nabi Ibrahim diajarkan untuk menjawab salam di manapun.  Jawablah salam dengan jawaban yang lebih baik, atau jawaban yang setara.

Kejadiannya Ibrahim saat itu tidak mengenal tamunya.  Namun Ibrahim tetap menjawab salam dengan salam yang lebih baik.  (Penjelasan bahwa Ibrahim tidak mengenal tamunya ada di Ad Dzariyat :25).

Fama labitsa : tidak lama setelah itu…
Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi panggang.

–> artinya saat kita kedatangan tamu, harus segera menjamu tamu.  Adab menjamu tamu dengan suguhan terbaik adalah sebagian dari iman.

Q.S. Ad Dzariyat ayat 25

إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal”.

Q.S. Surat An Nuur : 61

لَيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَنْ تَأْكُلُوا مِنْ بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُمْ مَفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ ۚ لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا ۚ فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً ۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu.  Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.  Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.  Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.

–> jadi, di ayat ini ada kata Shodiiqikum –> artinya teman, namun 1 orang. Maksudnya walau teman yang datang banyak, namun tetap perlakukan dengan yang sama.  Mau datang satu orang atau banyak, namun berilah perlakuan yang sama (memuliakan).

–> Ibrahim langsung menyuguhkan makanan artinya sebuah bentuk contoh memuliakan tamu, dan sebuah kehormatan lebih yang diberikan kepada tamu, saat tuan rumah langsung yang menyuguhkan.

Q.S.  Ad Dzariyat : 26

فَرَاغَ إِلَىٰ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ

Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.

–> jadi di ayat ini di jelaskan bahwa Ibrahim hanya sebentar meninggalkan tamu, lalu memberi isyarat kepada istrinya (Sarah) lalu Sarah dengan cekatan memasak (memanggang), lalu Ibrahim yang menyuguhkan ke depan seekor anak sapi yang gemuk.

–> disinilah ditunjukkan bahwa keluarga Ibrahim adalah keluarga yang baik dan dermawan.

–> cara memanggang yang paling baik adalah di atas batu yang membara. Disinilah berarti Sarah sangat mahir memasak.  Mengajarkan bahwa dapur adalah mulia untuk wanita.

Q.S. Ad Dzariyat : 27

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ

Lalu dihidangkannya kepada mereka.  Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan”.

–> jadi adab menerima tamu, makanan didekatkan ke tamu, agar tamu tidak sungkan.

–> lalu Ibrahim makan duluan, dengan harapan tamunya mengikuti.

Q.S. Hud : 70

فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۚ قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ

Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: “Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth”.

Q.S. Ad Dzariyat : 28

فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ

(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).

–> tapi ternyata tamunya tidak menyentuh suguhannya.  Ibrahim menjadi khawatir.  Lalu tamunya berkata, janganlah takut, bahwa kami (malaikat) diutus kepada kaum Luth (pada surat Hud), dan memberi kabar gembira bahwa Ibrahim akan mendapat anak yang alim (berilmu).

Q.S. Hud : 71

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ

Dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum, maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya’qub.

–> Sarah berdiri maksudnya siap melayani tamu suaminya.  Ia bersiap siaga perintah apa berikutnya untuk menjamu tamu suaminya.  Jadi saat suaminya memuliakan tamu, Sarah juga memuliakan tamunya.

–> Sarah tersenyum ada beberapa makna berdasarkan beberapa ulama :
1. Senyum senang karena dapat kabar gembira tentang kedatangan seorang anak.
2. Sarah senyum karena makanan sudah dimasak segera ternyata tidak jadi dimakan
3. Sarah tersenyum karena mendengar para malaikat itu akan diutus kepada kaum nabi Luth yang menyimpang.

Tentang kabar gembira anak ini ada di surat Ash Shaffat 101.  Kalau yang ini tentang kelahiran Ismail (sebelumnya):

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ

Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.

Kalau kabar kelahiran Ishaq “bighulaamin ‘aliim”.
Kalau kabar kelahiran Ismail ” bighulaamin haliim”.

‘Aliim : pintar dan cerdas
Haliim : anak yang amat sabar

Artinya tiap anak berbeda-beda.  Makanya anak keturunan Ishaq itu dikaruniai kecerdasan yang tinggi (Bani Israil), dan Nabi Ismail pun sudah menerima banyak ujian dari kecil (mulai dari ditinggalkan di Padang pasir tandus, perintah akan disembelih) hingga keturunannya pun terus dikaruniai kesabaran (Muhammad).

–> kabar gembira di surat Ad Dzariyat : 28 diuntukkan kepada Ibrahim.  Yang Hud : 71 untuk Sarah. Artinya kabar gembira ini untuk keduanya (Ibrahim dan Sarah).

–> di Adz Dzariyat 28 ini ada 2 kabar gembira, bahwa anaknya nanti (Ishaq) akan mempunyai anak lagi (Yakub).  Artinya kita harus senang juga dengan kelahiran anak dan kelahiran cucu.

Q.S. Hud : 72

قَالَتْ يَا وَيْلَتَىٰ أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَٰذَا بَعْلِي شَيْخًا ۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ

Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?.  Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh”.

Q.S. Adz Dzariyat : 29

فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ

Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”.

–> di 2 ayat ini merupakan jawaban Sarah.  Ia keheranan, bagaimana mungkin ia punya anak, karena ada 3 hal yang menyebabkan ia tak bisa punya anak :
1. Ia sudah tua
2. Suaminya juga sudah tua
3. Ia adalah orang yang mandul

Lalu dijawab langsung oleh para malaikat

Q.S. Hud : 73

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

–> apa kamu heran dengan urusan Allah?
Kalau kamu urusannya dengan manusia mungkin iya, karena tua dan mandul jadi tidak dapat keturunan.  Namun kalau Allah sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin. [SRY]

Wallahu’alam bishshowwab

Jan 03

TENTANG WAKTU

Oleh: H.M. Anis Matta

Setiap kali ada pergantian tahun seperti sekarang, saya selalu membangunkan kembali kesadaran saya tentang waktu dan cara merasakannya.  Cara setiap orang merasakan waktu berbeda karena “satuan waktu” yang mereka gunakan juga berbeda.  Itu lahir dari falsafah hidup yang juga berbeda.  Jika kita memaknai hidup sebagai pertanggungjawaban, maka waktu adalah masa kerja. Waktu adalah kehidupan itu sendiri.

Orang-orang beriman membagi waktu – seperti juga hidup – ke dalam waktu dunia dan waktu akhirat.  Itu 2 sistem waktu yang sama sekali berbeda.  Waktu dunia adalah waktu kerja.  Waktu akhirat adalah waktu pertanggungjawaban dan pembalasan atas nilai waktu kerja di dunia.  Waktu kerja di dunia mengharuskan kita memaknai setiap satuan waktu sebagai satuan kerja.  1 unit waktu harus sama dengan 1 unit amal.  Persamaan itu, 1 unit waktu sama dengan 1 unit kerja, membuat hidup kita jadi padat sepadat-padatnya, nilai waktu terletak pd isinya, kerja!

Tidak ada hal yang paling tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam hidup orang beriman selain waktu luang.  Itu hidup yang tidak terencana.  Waktu luang lahir dari pikiran dan jiwa yang kosong, yang tidak punya daftar pekerjaan yang harus dieksekusi.  Hidup mereka longgar tak bernas.  Mereka yang punya daftar pekerjaan utk dieksekusi menempatkan waktu sebagai sumber daya tak tergantikan.  Karena itu tidak boleh lewat tanpa nilai.

> Efek waktu adalah akumulasi <

Menyadari waktu adalah menyadari efeknya dan efek terpenting dari waktu adalah efek akumulasi.  Sesuatu tidak terjadi seketika tapi bertahap.  Akumulasi dari tindakan yang sama yang kita lakukan secara berulang2 akan menjadi karakter pada skala individu.  Akumulasi dari karakter individu selanjutnya menjadi budaya dalam skala masyarakat.  Akumulasi itu terjadi dalam rentang waktu tertentu.  Akumulasi budaya dari berbagai kelompok masyarakat dalam rentang waktu tertentu itulah yang berkembang menjadi peradaban.  Karena efek akumulasi sebuah peradaban tidak bisa bangkit seketika atau runtuh seketika.  Ada faktor-faktor yang mempengaruhinya secara akumulatif.

Masyarakat bangkit melalui akumulasi kontribusi.  Produktivitas individu-individu di dalamnya berupa karakter dan ide yang membentuk budaya mereka. Begitu juga keruntuhan sebuah masyarakat, itu akumulasi karakter dan ide destruktif individu-individunya yang membentuk budaya keruntuhannya.  Contoh lain adalah kesehatan.  Kualitas kesehatan fisik dan mental kita di atas usia 40 tahun adalah akumulasi dari pola hidup sehari-hari kita.  Sebagian besar penyakit yang kita alami di atas usia 40 tahun itu adalah akumulasi ketidakseimbangan pola hidup yang berlangsung lama.  Begitu juga dengan struktur pengetahuan kita, itu adalah akumulasi ilmu yang kita peroleh sehari-hari melalui bacaan dan media belajar lain.  Usia membuat orang lebih arif karena ia mengalami akumulasi pengetahuan.

Tehnologi hari ini adalah akumulasi tehnologi kemarin.  Karena itu Nabi Muhammad saw mengatakan “Jangan pernah meremehkan kebajikan sekecil apa pun itu”.  Itu karena sifat akumulasinya. Beliau juga mengatakan “Amal yang paling baik dan paling dicintai Allah adalah yang berkelanjutan walaupun hanya sedikit”.  Itu akumulasi. Kebajikan kecil-kecil yang kita lakukan secara terus-menerus menunjukkan perhatian dan konsistensi serta keterlibatan emosi yang dalam.  Nilai-nilai emosi yang menyertai amal itu hanya bisa dilihat dalam rentang waktu.  Karena itu, waktu jadi alat uji iman dan karakter yang efektif.

Sisi negatif manusia juga akumulatif.  Dosa yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi karakter dan selanjutnya memenuhi ruang hati manusia.  Dosa yang telah jadi karakter tidak akan menyisakan ruang bagi dorongan kebajikan dalam diri seseorang.  Allah akhirnya mengunci hatinya.  Akumulasi dosa yang menjadi karakter menutup mata hati seseorang. Ada tabir yang menghalagi mata dan telinganya utk melihat kebenaran.  Akumulasi itulah yang sebenarnya banyak menipu manusia pendosa karena terjadi secara perlahan dan tidak disadari oleh pelaku.  Terlalu halus.

Karena efek akumulasi itu, maka sifat-sifat terpuji yang paling banyak berhubungan dengan waktu adalah kesabaran dan ketekunan.  Tidak ada prestasi besar yang bisa kita raih dalam hidup tanpa kesabaran dan ketekunan yang panjang, sebab semua perlu waktu yang lama.  Kecerdasan yang tidak disertai kesabaran dan ketekunan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.  Itu ciri orang cerdas yang tidak produktif.  Itu sebabnya mengapa di antara semua sifat yang paling terulang dalam Qur’an adalah sabar.  Termasuk hubungan dengan waktu dalam surat Al ‘Ashr.

Kesabaran dan ketekunan adalah sifat utama yang melekat pada orang-orang besar, baik dalam dunia militer, bisnis, ekademik atau politik.  Kesabaran dan ketekunan juga merupakan sifat dasar kepemimpinan, karena mereka harus memikul beban berat dalam jangka waktu yang lama.  Kesabaran dan ketekunan adalah indikator kekuatan kepribadian seseorang.  Artinya ia punya tekad yang takkan terkalahkan oleh rintangan.

Efek akumulasi juga mengajarkan kita untuk berpikir secara sekuensial.  Berurut mengikuti deret ukur waktu.  Itu strategic thinking. Kemampuan berpikir sekuensial adalah bagian dari kemampuan berpikir strategis yang diajarkan oleh kesadaran akan waktu.  Efeknya besar! Kemampuan berpikir sekuensial terutama diperlukan saat kita membaca sejarah dan berbagai fenomena sosial politik.  Juga dalam perencanaan.

> Konsep Penggandaan <

Sebagai sumber daya waktu sangat terbatas, orang-orang produktif pasti selalu merasa bahwa waktu mereka terlalu sedikit dibanding rencana amal mereka. Umat Muhammad saw juga mempunyai umur masa kerja yang jauh lebih pendek dari umat-umat terdahulu, untuk sebuah hikmah Ilahiyah yang kita tidak tahu. Jadi harus ada cara mengatasi keterbatasan itu. Untuk itulah Islam memperkenalkan makna efesiensi melalui konsep penggandaan.

Kita menggunakan waktu yang sama untuk sholat 5 waktu secara jamaah atau sendiri, tapi mendapatkan pahala yang berbeda.  Waktu sama pahala beda. Waktu yang sama dengan pahala yang berbeda adalah inti dari konsep penggandaan.  Ini menciptakan perbedaan mencolok dan mengatasi keterbatasan.  Konsep penggandaan ini bisa mengubah persamaan dari sblmnya 1 unit waktu sama dengan 1 unit amal menjadi 1 unit waktu sama dengan beberapa unit amal.  Ajaran tentang amal jariah, sedekah jariyah, ilmu yang diajarkan, anak sholeh yang terus mendoakan, juga penerapan lain dari konsep penggandaan.

Konsep penggandaan bukan saja mengajarkan bagaimana mengatasi keterbatasan sumber daya tapi juga bagaimana memaksimalkan sumber daya yang terbatas itu.  Konsep penggandaan bukan saja mengajar bagaimana mengatasi keterbatasan sumberdaya, tapi juga bagaimana melipatgandakan hasil dari sedikit sumber daya.  Seseorang bisa hidup lebih lama dari umurnya dengan konsep penggandaan itu.  Caranya dengan menciptakan amal yang dampaknya lebih lama dari umur kita.

Seperti individu, masyarakat juga punya umur.  Peradaban juga punya umur. Umur masyarakat ditentukan oleh akumulasi umur individu.  Umur sosial menjadi panjang jika banyak individunya melakukan kerja-kerja penggandaan. Salah satunya adalah pewarisan ilmu pengetahuan.

Umur peradaban juga begitu.  Peradaban barat moderen dibangun pertama kali oleh spanyol dan portugis, lalu Inggris dan perancis, lalu AS.  Epicentrum sebuah peradaban berpindah dari 1 masyarakat ke yang lain, begitu umur sosial masyarakat itu habis.  Walaupun secara fisik tetap ada.  Seperti Barat, peradaban Islam juga dipikul banyak suku bangsa.  Mulanya Arab, lalu Persia, lalu Afrika, lalu Turki, lalu Mongol dst.  Akumulasi umur sosial dari suku bangsa itu menentukan panjang pendeknya umur peradaban.  Makin banyak yang memikulnya makin panjang umurnya. [SRY]

(HM. Anis Matta)
———————————–

Dec 31

Aksi Sigap PIP PKS Malaysia Dalam Membantu Korban Kebakaran

 

Kampung Baru (29/12/2017) — Nampak terlihat wajah-wajah sayu dan kesedihan dari para korban kebakaran yang rata-rata adalah TKI yang bekerja sebagai cleaner di kantor-kantor dan rumah sakit.  Saat itu mereka sedang berada di tempat penampungan sementara di Dewan Serbaguna Jalan Hamzah, Kampung Baru, Kuala Lumpur tersebut yang ditempatkan selama 8 hari sejak dari hari kejadian.  Kebakaran yang telah terjadi pada pukul 8 pagi, hari Jumat tanggal 29/12/2017 di Jalan Lorong Raja Muda Musa  6, Kampung Baru, Kuala Lumpur tersebut telah menghanguskan 15 buah rumah.  Menurut sumber dari Pegawai APM Kuala Lumpur Kapten (PA) Aziana Hizazi bahwa seluruh mangsa berjumlah 102 TKI dari 17 keluarga tersebut kesemuanya dinyatakan selamat.  Agensi kerajaan Malaysia yang terlibat membantu adalah APM Kuala Lumpur, 1 pegawai dan 4 anggota dengan 1 MRV (Ambulans) CW216.  Tepat sekitar pukul 10.45 pagi pemadam kebakaran datang memadamkan kebakaran.  Menurut informasi yang didapat dari masyarakat setempat penyebab kebakaran kemungkinan dari arus pendek listrik.  Tidak ada sedikitpun harta yang tersisa dari kebakaran tersebut termasuk paspor dan surat-surat penting lainnya .  Hanya tinggal pakaian yang mereka pakai itulah yang mereka miliki.

Diiringi dengan penuh keikhlasan, amanah, profesional dan cepat tanggap yang dimiliki oleh para kader dari PIP PKS Malaysia yang akhirnya dapat melahirkan dan menumbuhkan semangat kemanusiaan untuk turut andil memberikan bantuan dan ikut meringankan beban para korban kebakaran di Kampung Baru itu. Maka, pada hari itu juga Jum’at petang perwakilan dari PIP PKS Malaysia yang diketuai oleh Dr. Yose beserta Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) Pusat, Ketua BPKK Daerah KL, dan bersama rombongan datang menjenguk ke tempat penampungan sementara para korban kebakaran.  Tim PIP PKS Malaysia memberikan sumbangan berupa uang, pakaian, makanan, susu untuk anak-anak, dan selimut untuk para korban kebakaran di Kampung Baru, Kuala Lumpur itu serta sekalian adanya penyerahan sumbangan secara simbolik oleh Dr. Yose kepada ketua penampungan korban kebakaran, Bapak Asmin.  Betapa bahagianya para korban kebakaran menerima sumbangan dari PIP PKS Malaysia.   “……. tetapi permasalahan bagi kami sekarang adalah tempat tinggal, karena dewan yang kami tempati sekarang ini hanya bisa sampai tanggal 5 Januari 2018 saja…….”  lanjut cerita Bapak Asmin.  Begitulah di antara permasalahan-permasalahan  yang sedang mereka hadapi sekarang.  Walau bagaimanapun, tim PIP PKS Malaysia tetap dengan penuh antusias dan sabar turut mendengarkan curahan dan kesedihan yang dialami oleh korban kebakaran.  Sedikit banyak bantuan secara moril dan spirituil yang diberikan oleh tim PIP PKS Malaysia itu ikut meringankan beban dan trauma yang dialami oleh mereka.

Tak terasa malam pun tiba, akhirnya tim PIP PKS Malaysia meminta izin untuk pamit pulang kepada para korban kebakaran.  Mereka sangat berterimakasih sekali atas kunjungan dan sumbangan yang diberikan oleh PIP PKS Malaysia.  Ada harapan yang terpancar dari dalam diri mereka.  Tiada kata untuk berputus asa.  Hidup mesti dilanjutkan.  Di sebalik kejadian mengandung sejuta makna dan hikmah.  Walau tidak seberapa besar jumlah yang disumbangkan, tetapi peranan kita sebagai manusia harus terus dipupuk dan ditanam dalam diri setiap insan sebagai hamba Allah.  Semoga Allah membalas setiap kebaikan kita sebagai amal shaleh di yaumul akhir kelak.  Hanya kepada Allah SWT saja kita berharap dan berserah.  [SRY]
——————————————-