Jan 23

📝 Asy-Syinqithi: Suku Padang Pasir Yang Disegani Masyaikh Saudi

 

SUKU PENGHAFAL AL QURAN

Asy-Syinqithi merupakan sebuah suku padang pasir di negeri Afrika tepatnya di negara Mauritania. Mereka hidup dengan ilmu dan ketakwaan pada Allah. Dari mulai lahir hingga meninggal dunia.

إن لم يكن في الشنقيط زمزم – فلهم في العلم أصل أقدم

Walau tidak ada zamzam di Syinqith namun mereka punya pijakan kokoh dalam keilmuan.

Karena kebiasaan mereka dalam menuntut ilmulah yang menjadikan suku ini sangat istimewa. Secara adat, disana jika ada anak pada umur 7 tahun belum hafal Quran bagi mereka adalah aib (memalukan).

Mereka mendapatkan pendidikan Al Qur’an bukan hanya sejak kecil, tapi sejak masih dalam keadaan bayi.

Ketika ada seorang ibu hamil, sang ibu tidak akan menghabiskan waktu hanya tidur di kasur. Ibu tersebut akan menyibukkan diri untuk muraja’ah hafalannya hingga ibu itu terasa letih karenanya.

Setelah bayi itu lahir, sekeluarga akan muroja’ah bersama. Seorang anak akan muroja’ah kepada bapak atau ibunya, maka diwajibkan untuk dia muroja’ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya muroja’ah kepada ibunya. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya maka itulah tantangan untuk bagi mereka.

Ketika mereka berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama. mereka tidak belajar didalam kelas. Melainkan didalam tenda tengah gurun pasir yang panas, dan di dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan.

Mungkin dalam fikiran kita menyakitkan karena panasnya. namun itu nikmat untuk mereka karena rasa ingin tahu yang tinggi pada diri mereka menjadikan sedikit ilmu adalah nikmat dan rizki yang melimpah bagi mereka, bukan harta.

Ketika Syaikh berkata, “istami’ (dengarkan), maka semuanya menatap Syaikh tersebut dan menyimak dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan bermain pena, karena akan dimarahi.

Kemudian setelah Syaikh menjelaskan panjang lebar, barulah mereka menulis. Uniknya bukan diatas kertas, melainkan di batu, daun, kulit pohon dan yang sejenisnya mereka bawa dari rumah. Memakai kertas merupakan perkara terlarang, mereka hanya membawa selembar saja.

Setelah mereka menulis, Syaikh akan mengkoreksi dan jika ada yang salah maka akan dikembalikan untuk dibetulkan hingga sama persis seperti apa yang diucapkan Syaikh. Lalu, setelah mereka menulisnya dengan benar Syaikh kemudian memerintahkan untuk menghapusnya. Anda mungkin keheranan kenapa dihapus, maka begitulah pendidikan disana. Setelah itu Syaikh akan melanjutkan pelajaran berikutnya sampai selesai seperti metode sebelumnya.

Setelah pelajaran usai, mereka pulang kerumah dan barulah saat itu mereka menulis kembali apa yang sudah dihafalnya. Dan luar biasanya, hafalan mereka melekat seerat-eratnya dan bahkanpun dengan sekejap saja.

Hingga dikatakan oleh para ulama yang memanfatkan mereka :

فالشناقطة لا يعدون علما إلا ما حصل في الصدر ووعته الذاكرة متنا و معنى

Mereka kaum Syinqitgi hanya menganggap ilmu itu adalah sesuatu yang ada didada dan dapat diingat kapan saja baik intelektualnya atau maknanya.

Pada usia ke 17 tahun mereka sudah menjadi mufti dan bisa memberikan fatwa. Belajar dengan menghafal danmencatatnya diatas kayu (lahwah).

Tak jarang diantara mereka yang berguru kepada ayahnya , kakeknya, ibunya dan paman serta bibinya.

Semoga kita mendapat keberkahan mereka.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.