«

»

Dec 10

Silaturrahim Asatidz DPP dengan Kader PIP PKS Malaysia

“Perubahan apa pun di muka bumi ini tidak akan pernah terjadi tanpa didahului oleh perubahan sikap mental atau keyakinan. Keyakinan yang kuat akan melahirkan pemikiran yang visioner dan selanjutnya mendorong lahirnya tindakan nyata yang menghasilkan sebuah perubahan besar. Dan bagi umat Islam, aspek yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah kekuatan aqidah,” demikian ungkap Ust. Bowo (Bidang Pengembangan Kepemimpinan DPP PKS) dalam taujihnya di hadapan pengurus dan anggota PIP PKS Malaysia di Markas Dakwah PIP PKS di daerah Kampung Baru, Kuala Lumpur pada Sabtu, 8 Desember 2012.

Selain Ust. Bowo, hadir pula para ustadz yang lain dari DPP PKS, yaitu Ust. Octan (Ketua Wilayah Dakwah Bali Nusra) dan Ust. Khairul Anwar (Ketua Wilayah Dakwah Sumatera). Mereka bertiga hadir dan secara berturut-turut menyampaikan taujih dalam forum silaturrahim dengan para kader PIP PKS Malaysia. Ajang silaturrahim yang berlangsung hangat dan santai ini, diisi dengan taujih dan diskusi yang sangat menarik dan menyuguhkan banyak pelajaran dan informasi berharga bagi para kader.

Selengkapnya
“Kita dituntut untuk selalu meluaskan space of possibilities dalam pikiran kita sehingga memungkinkan terbukanya pilihan-pilihan tindakan yang lebih beragam dan kreatif. Jangan membatasi jangkauan pemikiran yang pada akhirnya hanya akan membatasi pilihan-pilihan tindakan kita sendiri,” sambung Ust. Bowo sembari mengutip sebuah hadits Qudsi yang berbunyi: “ana ‘inda dzanni ‘abdi bi.”

Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kepemimpinan dalam dakwah sebagaimana ditegaskan oleh Hasan Al-Banna bahwa dakwah tidak akan bertahan dan berkembang tanpa kepemimpinan (qiyadah) dan bahwa setiap pengikut (jundi) dituntut ketaatan dan ke-tsiqohannya pada qiyadah. Meskipun demikian, relasi qiyadah-jundi bukan bersifat searah atau top down an sich, melainkan mutabadilah (saling timbal balik).

Pada sesi berikutnya, Ust. Octan menguraikan kondisi dan tantangan dakwah PKS di wilayah minoritas Muslim. Wilayah Dakwah Bali Nusra yang meliputi Bali, NTB dan NTT merupakan etalase prinsip keterbukaan PKS terhadap non-Muslim. Di wilda ini, terdapat sejumlah anggota legislatif dan pengurus PKS yang non-Muslim.

Menurut beliau, penerimaan masyarakat terhadap PKS berkorelasi positif dengan sejarah penerimaan Islam dan keberagamaan di setiap wilayah. Wilayah yang lebih dahulu menerima Islam relatif lebih mudah dan cepat menerima PKS. Oleh karena itu, proses peningkatan tadayyun sya’bi harus terus dilakukan oleh para da’i PKS. Dan setiap kader hendaknya menjadi murabbi. Hal ini karena setelah terbentuknya syakhsiyyah Islamiyyah dalam diri setiap kader, maka tahap berikutnya bagi tiap kader adalah menjadi syakhsiyyah da’iyyah yang bertugas menyebarluaskan fikrah Islam kepada masyarakat.

Sementara itu, Ust. Khairul Anwar selaku muwajjih ketiga banyak mengetengahkan tantangan dan dinamika PKS di tataran politik praktis. Tak lama lagi, kata beliau, Propinsi Sumatera Utara yang merupakan ‘gengsinya Sumetara’ akan menghadapi Pilkada dan PKS kembali mencalonkan gubernur incumbent, Ust. Gatot untuk posisi gubernur.

Kehidupan politik di lapangan, lanjut beliau, sangat dinamis, tak terduga dan terkadang sangat ‘kejam’. Oleh karena itu, dalam berpolitik, PKS dituntut bermain cerdas dan berhati-hati agar tidak mudah dipermainkan pihak-pihak lain. Di Pemilu 2004, PKS pernah kehilangan 3 kursi DPR dari Sumatera. Hal seperti ini seharusnya tidak terulang kembali karena, sesuai hadits, “seorang muslim tidak akan terperosok ke dalam lobang yang sama untuk kedua kalinya.”

Dengan gaya Medannya yang khas dan jenaka, Ust. Khairul juga mengupas peran PKS di tiap mihwar (orbit) dakwah. Semakin luas mihwar, semakin besar tantangannya. Dakwah secara struktural atau melalui kekuasaan diyakini dan terbukti memberikan peningkatan capaian target dakwah secara quantum, jauh lebih cepat dibandingkan dakwah kultural, tutur beliau.

Setelah diselingi ishoma, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dan pada pukul 16.30 sore, secara keseluruhan acara yang berlangsung dari pagi hingga sore hari ini resmi berakhir. Para kader tampak sangat menikmati hidangan taujih dari para asatidz dan berharap pertemuan yang sangat mencerahkan seperti ini dapat digelar kembali di waktu-waktu yang akan datang untuk semakin mematangkan kedewasaan berjamaah dan berpolitik para kader. ©abi mumtaz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *