Feb 23

📝 Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an (2)

…. Sambungan

Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :
Wanita tua :”Qul lil mu’miniina yaghdudhu min abshoorihim.”
(QS. An-Nur
: 30)
(“Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka”)
Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai untaku.
Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi baginya.
Wanita itu berucap lagi.
Wanita tua :”Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum.”
(QS. Asy-Syura’ 30)
(“Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri”)

Abdullah : “Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu.”

Wanita tua : “Fa fahhamnaaha sulaiman.”
(QS. Anbiya’ 79)
(“Maka kami telah memberi pemahaman pada nabi Sulaiman”)
Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.

Abdullah :”Silahkan naik sekarang.”

Wanita tua :”Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin,
wa inna ila robbinaa munqolibuun.”
(QS. Az-Zukhruf : 13-14)
(“Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini pada kami sebelumnya
tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami”)
Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang.
Wanita tua itu berkata lagi.

Wanita tua :”Waqshid fi masyika waghdud min shoutik”
(QS. Lukman :19)
(“Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu”)
Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair,
Wanita tua itu berucap.

Wanita tua :”Faqraa-u maa tayassara minal qur’aan”
(QS. Al- Muzammil :20)
(“Bacalah apa-apa yang mudah dari Al-Qur’an”)

Abdullah :”Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak.”

Wanita tua :”Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab.”
(QS Al-Baqoroh :269)
(“Dan tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu”)
Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.

Abdullah :”Apakah anda mempunyai suami?”

Wanita tua :”Laa tas-alu ‘an asy ya-a in tubda lakum tasu’kum”
(QS. Al-Maidah : 101)
(“Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu”)
Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.

Abdullah :”Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?”

Wanita tua :”Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya.”
(QS. Al-Kahfi: 46)
(“Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia”)
Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.

Abdullah :”Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?”

Wanita tua :”Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun”
(QS. An-Nahl :16)
(“Dengan tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk”)
Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji
mengikuti beberapa petunjuk.
Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju perkemahan.

Abdullah :”Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?”

Wanita tua :”Wattakhodzallahu ibrohima khalilan”
(QS. An-Nisa’ : 125)
(“Kami jadikan ibrahim itu sebagai yang dikasihi”)”
Wakallamahu musa takliima”
(QS. An-Nisa’ : 146)
(“Dan Allah berkata-kata kepada Musa”)”
Ya yahya khudil kitaaba biquwwah”
(QS. Maryam : 12)
(“Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh”)
Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya,
maka keluarlah anak-anak muda yang bernama tersebut.
Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang baru muncul.
Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah wanita itu.

Wanita tua :”Fab’atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur
ayyuha azkaa tho’aaman fal ya’tikum bi rizkin minhu.”
(QS. Al-Kahfi : 19)
(“Maka suruhlah salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini,
dan carilah makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu”)
Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan,
lalu menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :

Wanita tua :”Kuluu wasyrobuu hanii’an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah”
(QS. Al-Haqqah : 24)
(“Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah kamu kerjakan
di hari-hari yang telah lalu”)

Abdullah :”Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya sebelum
kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya.”

Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :”
Beliau adalah orang tua kami.
Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara mempergunakan ayat-ayat Al-Qur’an,
hanya karena khawatir salah bicara.
“Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya.

Akhirnya saya pun berucap :”Fadhluhu yu’tihi man yasyaa’ Wallaahu dzul fadhlil adhiim.”
(QS. Al- Hadid : 21)
(“Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya,
Allah adalah pemberi karunia yang besar”)

Semoga bermanfaat
Silahkan share

(Kitab Misi Suci Para Sufi, Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha, hal. 161-168)

@ Alwi Husin

Feb 16

📝 Kisah Wanita Yang Selalu Berbicara Dengan Bahasa Al-Qur’an

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta’ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram,
lalu berziarah ke makam Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam.
Ketika saya berada disuatu sudut jalan,
tiba2 saya lihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu.
Ia adalah seorang ibu yang sudah tua.
Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya.

Terjadilah dialog dengannya beberapa saat.
Dalam dialog tersebut wanita tua itu,
setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin Mubarak,
dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an.
Walaupun jawabannya tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan,
karena tidak terlepas dari konteks pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah :”Assalamu’alaikum warahma wabarakaatuh.”

“Wanita tua :”Salaamun qoulan min robbi rohiim.”
(QS. Yaasin : 58)
(artinya : “Salam sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih”)

Abdullah : “Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini ?”

Wanita tua :”Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu.”
(QS : Al-A’raf : 186)
(“Barang siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya”)
Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

Abdullah :”Kemana anda hendak pergi ?”

Wanita tua :”Subhanalladzi asra bi ‘abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqsa
(QS Al-Isra’:1)
(“Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu malam
dari masjid haram ke masjid aqsa”)
Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan
hendak menuju ke masjidil Aqsa.

Abdullah :”Sudah berapa lama anda berada di sini ?”

Wanita tua :”Tsalatsa layaalin sawiyya
(QS. Maryam : 10)
(“Selama tiga malam dalam keadaan sehat”)

Abdullah :”Apa yang anda makan selama dalam perjalanan ?”

Wanita tua :”Huwa yut’imuni wa yasqiin.”
(QS. As-syu’ara’ : 79)
(“Dialah pemberi aku makan dan minum”)

Abdullah :”Dengan apa anda melakukan wudhu ?”

Wanita tua :”Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha’idan thoyyiban
(QS. Al-Maidah : 6)
(“Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih”)

Abdulah :”Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya ?”

Wanita tua :”Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil.”
(QS. Al-Baqarah : 187)
(“Kemudian sempurnakanlah puasamu sampai malam”)

Abdullah :”Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa ?”

Wanita tua :”Wa man tathawwa’a khairon fa innallaaha syaakirun ‘aliim.”
(QS. Al-Baqarah : 158)
(“Barang siapa melakukan sunnah lebih baik”)

Abdullah :”Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir ?”

Wanita tua :”Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta’lamuun.”
(QS.Al-Baqarah : 184)
(“Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui”)

Abdullah :”Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya ?”

Wanita tua :”Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun ‘atiid.”
(QS. Qaf : 18)
(“Tiada satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid”)

Abdullah :”Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu ?”

Wanita tua :”Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam’a wal bashoro wal fuaada, kullu ulaaika kaana ‘anhu mas’ula.”
(QS. Al-Isra’ : 36)
(“Jangan kamu ikuti apa yang tidak kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung jawabkan”)

Abdullah :”Saya telah berbuat salah, maafkan saya.”

Wanita tua :”Laa tastriiba ‘alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum.”
(QS.Yusuf : 92)
(“Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu”)

Abdullah :”Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan.”

Wanita tua :”Wa maa taf’alu min khoirin ya’lamhullah.”
(QS Al-Baqoroh :197)
(“Barang siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya”)

bersambung…….

Feb 11

📝 Mengetuk Pintu Langit

Oleh: Dr.  Atabik Luthfi

🌈  Semua ayat yang berbicara tentang penciptaan alam semesta selalu diawali dengan ‘penciptaan langit….baru bumi…kemudian seluruh isinya. Seperti ayat:

(بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ)
Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (Surat Al-Baqarah 117) 

🌈  Betapa istimewanya langit selalu disebut diawal sebelum bumi dan lainnya.   

🌈  Langit adalah tempat tinggi, yg berdiam makhluk Allah yg mulia yaitu malaikat-malaikatNya.

🌈  Keberkahan atau anugerah langit adalah keberkahan sesungguhnya. Disitulah ketenangan, kekhusu’an, kebahagiaan dlm keta’atan…dan sebagainya

(وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ)
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,……(Al-A’raaf: 96)

🌈  Anugerah langit tdk ada batasnya dibanding anugerah Allah di bumiNya.

🌈  Namun karena kita hidup di bumi, maka Allah perintahkan juga utk mencari anugerah di bumi:

(فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ)             “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (Al-Jumu’ah: 10) 

 🌈  Anugerah bumi lebih identik dengan materi, karenanya sering terjadi konflik antar manusia yang melulu hanya mencari anugerah bumi dan melupakan anugerah tertinggi yaitu anugerah langit.

🌈  Tentu tdk bertentangan antara anugerah Allah di bumi dan di langit.

🌈  Dalam berikhtiar, ketika sdh berusaha mengetuk pintu bumi, mengupayakan berbaik dgn makhluk bumi. Maka setelah itu hrs berusaha mengetuk pintu langitNya.

🌈  Mengetuk pintu langit agar Allah turunkan malaikat-malaikatNya untuk memberi bantuan dan pertolongan untuk hajat kita di bumi:

(إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ)
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (Al-Anfaal: 9)

🌈  Ayo kita perkuat hubungan dgn yg di langit utk semua hajat dan kepentingan kita di bumi setelah usaha berbuat baik dengan yang di bumi…insya Allah pertolongan Allah semakin dekat dengan kita.  Aamiin

💫 💫 💫 💫 💫 💫 💫 💫 💫

Feb 09

📝 Satu Jari Yang Dahsyat

💡 Oleh: Irsyad Syafar

Siapakah yang tidak kenal dengan Qutaibah bin Muslim Al Bahiliy. Dialah seorang panglima perang yang sangat terkenal, pemimpin penaklukan Islam di kawasan Asia tengah pada abad pertama hijriyah. Tabiin yang mulia ini telah menaklukkan wilayah Khawarizmi, Sijistan, Samarqand, Bukhara dan sampai ke perbatasan negara Rusia.

Imam Adz Dzahabi menceritakan dalam kitab “Siyar A’lam An Nubala”, ketika Qutaibah memimpin pasukan umat Islam berhadapan dengan pasukan Attrak, hatinya bergetar melihat pasukan lawan yang sangat tangguh. Maka dia bertanya kepada pengawalnya, “Dimana Muhammad bin Al Waasi’?”. Para sahabatnya memberi tahu bahwa Muhammad bin Al Wasi’ ada di barisan sayap kanan pasukan.

Maka Qutaibah menoleh ke arah sayap kanan pasukan. Rupanya disana Muhammad bin Al Wasi’ sedang bersiap dengan panahnya. Tapi, jari telunjuknya menunjuk ke arah langit, dan bibirnya komat-kamit berdoa kepada Allah.

Seketika itu juga Qutaibah langsung berteriak dengan keras: “Sesungguhnya satu jari itu lebih aku sukai dari pada seratus ribu anak panah yang terbang melayang dan seratus ribu pemuda yang berperang”.

Dan benar, peperangan itu dimenangkan oleh pasukan Qutaibah bin Muslim. Dan doa seorang lelaki shaleh lagi mulia, Muhammad bin Al Wasi’ telah membuat kokoh dan kuatnya pasukan dihadapan kekuatan musuh.

Begitulah buah dari hubungan yang sangat baik dan kuat antara seorang hamba dengan Rabbnya. Yaitu kemenangan dalam setiap perjuangan. Bahkan satu jari sekalipun bisa jauh lebih kuat dari pada seratus ribu pasukan.

Dalam kerja-kerja dakwah, seorang da’i sangat membutuhkan pertolongan-pertolongan khusus dari Allah. Sebab, beban dan tantangan dakwah dari hari ke hari semakin berat. Maka setiap da’i harus membangun hubungan yang baik dengan Allah, melalui penguatan iman dan peningkatan amal shaleh baik kualitas maupun kuantitas.

Seorang da’i tidak boleh menyepelekan doa dan ibadah yang dia lakukan kepada Allah. Bisa jadi dari situ Allah mendatangkan pertolonganNya. Tidak saja kepada dirinya, bahkan bisa kepada kerja-kerja dakwah kolektif bersama para da’i lainnya. Dan bisa jadi itu terjadi dari orang biasa-biasa saja.

Rasulullah saw bersabda:

(إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ  .(رواه البخاري ومسلم

Artinya: Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada orang yang kalau dia bersumpah dengan nama Allah, niscaya Allah buktikan (terjadi)”.                             (HR bukhari dan Muslim).

Wallahu A’laa wa A’lam.

🏆🌟🏆🌟🏆🌟🏆🌟

Feb 07

📝 Fikih Belanja On Line

🕋 Oleh: Dr. Oni Sahroni, M.A

Di antara rambu-rambu belanja online adalah sebagai berikut :

Pertama, apa yang dibeli.

🛒 Barang atau jasa yang dibeli, itu harus memenuhi unsur-unsur berikut:

1: Tidak boleh barang atau jasa yang diharamkan dalam Islam, seperti mainan anak-anak yang merusak akhlak atau moral anak-anak atau barang-barang lain yang bertentangan dengan syariah.

2: Sebaiknya tidak mengonsumsi barang-barang yang makruh menurut ulama, seperti rokok dan lain sebagainya.

3: Mengonsumsi barang-barang yang diprioritaskan untuk dimiliki. Oleh karena itu, tidak membeli barang atau jasa yang tidak dibutuhkan atau tersier, sehingga mengakibatkan tabdzir atau pemubadziran. Sesuai firman Allah Swt.

‎إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Kedua, dengan cara apa.

1: Cara membeli ini harus berdasarkan kaidah-kaidah akad untuk memperjelas hak dan kewajiban pihak-pihak akad.

2: Belanja onlne harus dilakukan sesuai syariah, terutama akad-akad yang digunakan dalam bisnis online terkait dengan apa yang dibeli, kepada siapa membeli dan dengan cara apa membeli.

3: Jenis Akad (Transaksi)

🤝 Skema Jual Beli

Sesungguhnya transaksi jual beli itu terjadi antara pemilik produk atau barang dengan pembeli langsung. Skema yang digunakan adalah jual beli tidak tunai atau al-Bai’ al-Muajjal, di mana barang yang dijual itu diserahkan secara tunai, sedangkan harga diterima oleh penjual atau produsen setelah barang diterima oleh pembeli.

*🤝 Skema Jual Beli*
Transaksi antara pemilik marketplace atau lapak dengan penjual itu menggunakan akad Ijarah atau jual manfaat, di mana pemilik marketplace menyewakan jasa lapak sebagai marketing atau pemasaran produk kepada pembeli. Maka atas jasa memasarkannya itu pemlik marketplace mendapatkan fee. Hal ini berdasarkan hasil keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami (Divisi Fikih Organisasi Kerjasama Islam/OKI) No. 51 (2/6) 1990 yang membolehkan jual beli tidak tunai dan Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Murabahah.

4: Ketentuan Transaksi Jual Beli

Berdasarkan skema jual beli antara pemilik produk dan pembeli melalui market place, penjual berhak mendapatkan margin atas produk yang dijualnya sesuai kesepakatan

🏷 Jika harga jualnya baru bisa diterima setelah produk diterima oleh pembeli itu disepakati, ketentuan ini menjadi sah dan harus ditepati dalam transaksi jual beli. Sebagaimana hadis Nabi Muhammad Saw.

المسلمون على شروطهم إلا شرطا حرم حلالا, او أحل حراما

Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati kecuali persyaratan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR. Tirmidzi, Ad Daruquthni, Baihaqi dan Ibnu Majah)

5: Ketentuan Transaksi Jual Beli

Berdasarkan skema ijarah antara pemilik lapak dan supplier (pemilik produk), pemilik lapak berhak mendapatkan fee atas jasa marketing product sehingga produk tersebut dibeli oleh pembeli atau pelanggan, baik fee secara langsung diberikan oleh penjual produk maupun fee secara tidak langsung dari iklan ataupun dari transaksi pihak ketiga. Hal ini berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pebiayaan Ijarah dan Fatwa Dewan Syariah Nasional NO: 52/DSN-MUI/III/2006 Tentang Akad Wakalah Bil Ujrah Pada Asuransi Syari’ah dan Reasuransi Syari’ah

Jika ada ketentuan bahwa saldo penjual ditahan oleh pemilik lapak sehingga barang diterima oleh pembeli. Ketentuan ini bertujuan agar hak pembeli, untuk mendapatkan barang, bisa terpenuhi sehingga tidak terjadi biaya sudah diterima oleh penjual, tetapi barang belum diterima. Jika ketentuan ini disepakati, jual beli menjadi sah. Sesuai pendapat Ibnu Qayyim dalam masalah syarat akad bahwa setiap syarat disepakati itu dibolehkan selama tidak bertentangan dengan target bisnisnya. Jika pihak yang menyewakan jasa itu memberikan discount itu diperkenankan selama atas ridha pihak penjual (at tanazul an al haq)

Ketiga, dari mana kita membeli.

(Pihak yang menjadi tempat atau supplier, produsen);

1: Berbelanja diprioritaskan kepada sesama muslim untuk memperkuat ekonomi umat, kecuali jika tidak ada alternatif lain, sementara kebutuhan yang harus dibeli itu kebutuhan sekunder dan primer maka diperkenankan.

2: Begitu pula, tidak diperkenankan untuk berbelanja kepada toko atau produsen yang jelas-jelas dipastikan mendukung pihak yang menganiaya & menjajah umat Islam, seperti halnya berbelanja untuk produk-produk yang disumbangkan untuk Zionis atau Yahudi. Oleh karena itu, maka setiap kita berbelanja idealnya memilah atau memilih produk mana yang harus dibeli.

Keempat, Berbelanja diniatkan beribadah kepada Allah Swt,

🕌 sehingga setiap berbelanja itu untuk keperluan ibadah kepada Allah Swt, seperti membeli mainan untuk anak-anak maka dipilih mainan yang kira-kira mendidik bagi anak. Bukan sekedar bermain apalagi merusak pendidikan anak-anak.

Wallahu a’lam

🗣 Referensi

🏜 Buku Fikih Muamalah; Dinamika Teori Akad dan Penerapannya dalam  Ekonomi Syariah, (Dr. Oni Sahroni, M.A dan Dr. M. Hasanuddin, M.Ag.) , Raja Grafindo, Jakarta, 2015.

🏜 Buku Riba, Gharar dan Kaidah-Kaidah Ekonomi Syariah Analisis Fikih & Ekonomi (Dr. Oni Sahroni, M.A. & Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P), Raja Grafindo, Jakarta, 2015.

🏜 Fatwa DSN-MUI NO: 04/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Murabahah, NO: 09/DSN-MUI/IV/2000 Tentang Pebiayaan Ijarah, dan NO: 52/DSN-MUI/III/2006 Tentang Akad Wakalah Bil Ujrah Pada Asuransi Syari’ah dan Reasuransi Syari’ah

🏜 Keputusan Majma’ Al-Fiqh Al-Islami (Divisi Fikih Organisasi Kerjasama Islam/OKI) No. 51 (2/6) 1990.